Pages

3/14/2011

Morphology and Syntax

Morphology and syntax
________________________________________
Morphology
Syntax
The term grammar is often used to refer to morphology (the study of word forms) and syntax (the study of sentence structure) together. Languages can be classified according to the grammatical principles which hold for them. Such classification is the subject of typology which is concerned with synchronic structure and not with genetic grouping. A language may change its type over time as has happened with English which in the Old English period was a synthetic language with many inflections and now is a rather analytic language with few grammatical endings. The following chart illustrates the main language types.

Morphology
________________________________________
There are two basic divisions in morphology :
(1) lexical morphology (word formation)
(2) inflectional morphology (grammar, conjugation/declination)
• Morphology is concerned with the study of word forms. A word is best defined in terms of internal stability (is it further divisible?) and external mobility (can it be moved to a different position in a sentence?).
• A morpheme is the smallest unit which carries meaning. An allomorph is a non-distinctive realisation of a morpheme.
• Morphology can further be divided into inflectional (concerned with the endings put on words) and derivational (involves the formation of new words).
• Affixation is the process of attaching an inflection or, more generally, a bound morpheme to a word. This can occur at the beginning or end and occasionally in the middle of a word form.
• Morphemes can be classified according to whether they are bound or free and furthermore lexical or grammatical.
• Word formation processes can be either productive or lexicalized (non-productive). There are different types of word-formation such as compounding, zero derivation (conversion), back formation and clipping.
• For any language the distinction between native and foreign elements in the lexicon is important. In English there are different affixes used here and stress also varies according to the historical source of words.

Syntax
________________________________________
• Syntax concerns the possible arrangements of words in a language. The basic unit is the sentence which minimally consists of a main clause (containing at least a subject and predicate). Nouns and verbs are the major categories and combine with various others, such as adjectives, adverbs, prepositions, conjunctions, etc. to form more complex sentences.
• Linguists often distinguish between a level on which the unambiguous semantic structure of a sentence is represented, formerly referred to as deep structure, and the actual form of a sentence, previously called surface structure.
• Sentence structure is normally displayed by means of a tree diagram which is intended to display the internal structure in a manner which is visually comprehensible. Such a diagram is not assumed to correspond to any encoding of language in the brain.
• The term generation is used in formal linguistics to describe exhaustively the structure of sentences. Whether it also refers to the manner in which speakers actually produce sentences, from the moment of having an idea to saying a sentence, is a very different question and most linguists do not make any such claim.
• Universal grammar represents an attempt to specify what structural elements are present in all languages, i.e. what is their common grammatical core, and to derive means for describing these adequately.
• Language would appear to be organized modularly. Thus syntax is basically independent of phonology, for instance, though there is an interface between these two levels of language.
The purpose of analyzing the internal structure of sentences is
1) to reveal the hierarchy in the ordering of elements
2) to explain how surface ambiguities come about
3) to demonstrate the relatedness of certain sentences
Students should be aware of how syntax is acquired by young children.
Acquisition of syntax (greatly simplified)
Input Language heard in child’s surroundings
Step 1 Abstraction of structures from actual sentences
Step 2 Internalization of these structures as syntactic templates (unconscious knowledge)

2/24/2011

Sinetron Islam KTP, Satir Namun Mencerdaskan dengan Pesan Agamis dan Moral

Siapapun tidak asing lagi dengan seloroh seperti ini: ” Kecebong anyut anak amis” atau ” Bahlul” atau ” Merabal” atau ” eeh..keceplosan” atau “ Kata Bapak Tebe…” dan sederet seloroh sarkasme yang keluar dari mulut Madit Musyawaroh, Tebe maupun RT Hasan Hutapea serta nasihat lugas dari Bang Ali Nurdin ataupun Ustadz Kodir Gondes yang sesekali menusuk tajam namun menyejukan pada akhirnya. Semua itu dapat kita temukan dalam tayangan sinetron yang setiap hari tayang di Stasiun Televisi SCTV setelah adzan Maghrib hingga jam sembilan malam. Belum lagi perseteruan kocak antara Mamat dan Karyo yang mewakili dua karakter dari etnis Betawi dan Jawa, serta suguhan drama percintaan yang menguras emosi antara Jami, Sabrina dan Nafsih ditambah keluguan Enting dan Dul yang selalu dirundung sial, serta Emak Amsani yang selalu jadi bahan hinaan Madit, seolah menjadi pelengkap bahwa cerita dalam sinetron tersebut dibuat dalam tutur mengalir, ringan, renyah, sederhana, kocak, satir namun mengena dihati penontonnya. Maka tidaklah mengherankan jika rating sinetron Islam KTP terus bertahan.

Ada sebuah sinyalemen yang mengatakan bahwa; ada kerinduan masyarakat/penonton untuk kembali dapat menyaksikan suguhan sinetron sebagai salah satu hiburan yang bukan merupakan hiburan semata namun memberikan nilai lebih yaitu pembelajaran, pesan agamis dan moral yang sudah sangat jarang ditemukan dalam tayangan sinetron ditelevisi belakangan ini. Tayangan sinetron dengan tema cinta, perselingkuhan, rebutan harta dan jabatan serta kekerasan telah membawa dampak negative yang berangsur namun pasti mencekoki masyarakat, meskipun lembaga sensor dan pihak - pihak terkait telah melakukan tugas yang semestinya. Lahirnya sinetron - sinetron sederhana namun dengan konsep yang kuat tentu sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai penonton. Sinetron popular seperti Si Doel Anak Sekolahan yang mampu bertahan hingga beberapa jilid barangkali bisa dijadikan rujukan bahwa sinetron tidak semata harus tayang dengan durasi yang panjang serta episode yang lumayan banyak, melainkan itu bisa terjadi dikarenakan memang masyarakat menyukai tayangan tersebut karena memberikan “sesuatu” yang lain dari kebanyakan sinetron yang pernah ada. Begitupun sinetron Islam KTP yang bertahan hingga mencapai angka ratusan episode dan tayang secara stripping merupakan sebuah usaha dan kerja keras yang luar biasa.

Warid AS sebagai seorang penulis scenario telah berusaha dengan keras untuk menemukan trend baru bagi penonton, yaitu sebuah konsep sederhana yang terjadi dimasyarakat namun dikemas dengan suguhan yang apik, sedikit kocak, satir, blak-blakan, menyinggung, namun berusaha memberikan pelurusan dan kebenaran yang semestinya benar. Pesan - pesan moral dan agama yang dikutip dari Al Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW dapat dijadikan cermin bagi kita untuk berkaca diri dan introspeksi. Karena sejatinya suguhan yang ditampilkan oleh masing - masing karakter merepresentasikan karakter kita/ masyarakat pada umumnya. Jadi ketika ada kalimat yang menyinggung, memaki, menyindir, memuji semua itu adalah hakikatnya sedang merefleksikan diri kita. Ibarat kata, kita sebagai penonton tengah menguliti dan mengupas keburukan yang ada pada diri kita untuk kemudian diarahkan pada jalan yang semestinya yaitu; kembali pada ajaran agama dengan berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits.

Menonton tayangan televisi apakah berita, infotainment, hiburan, musik, sport, sinetron dan lainnya dengan satu harapan mendapatkan kepuasan sekaligus hiburan dan ilmu pengetahuan/informasi. Namun suguhan tayangan yang baik tentu harus memberikan muatan positif berupa informasi yang mencerdaskan. Maka kedepan diharapkan tayangan televisi tidak melulu hanya mengejar rating serta dukungan iklan yang memadai (meskipun iklan merupakan sumber pembiayaan) namun setidaknya nilai- nilai positif tetap perlu diprioritaskan. Bukankah sebuah tujuan mulia dari media adalah sebagai sarana mencerdaskan bangsa? Maka sudah waktunya stasiun televisi mampu memilah dan memilih jenis dan ragam tayangan yang baik dan bermutu. Dan sinetron tentu akan tetap menjadi primadona tersendiri dihati para pemirsanya.***